Main Menu

Perjalanan ke Karimun Jawa



Sudah lama saya memimpikan untuk berlibur di Karimun Jawa. Mendengar cerita dari kerabat dan teman membuat keinginan saya semakin kuat. Apalagi setelah menyelesaikan smester tua yang cukub berat. Tak bisa dipungkiri, semester 8 di jurusan saya (Ilmu Komunikasi Univ. Sebelas Maret) merupakan semester terberat, baik dari segi pikiran, tenaga, maupun keuangan.  Rasanya ingin rehat dari segala macam aktivitas kampus saat liburan tiba. Untuk skripsi? Hmmm, habis liburan masih ada waktu.

Sesuai apa yang direncanakan, tentunya dengan persiapan yang dirasa cukup, akhirnya saya bersama 5 (lima) orang teman saya melakukan perjalanan menuju Kepulaun Karimun Jawa. Dari Solo, Jum’at (15/7) sekitar jam 2 siang kami berenam menggunakan roda dua menuju Jepara via Semarang.

Tercatat dua kali berhenti, pertama sholat Maghrib di Masjid Candi Lama Semarang dan kedua Alun-alin Kota Demak untuk makan. Seperti ciri alun-alun di Indonesia pada umumnya, penjual makanan maupun aksesoris bercampur dan berjejer di tepian alun-alun. Warung Bakmi Jowo milik orang Klaten menjadi pilihan pengisi perut malam itu. Sambil menunggu bakminya, saya yang memang senang dengan jalan-jalan dan ingin mengetahui hal baru berkeliling seorang diri dengan kamera foto di lengan kanan dan handycam di lengan kiti. Ada taman bermain anak, aktivitas jual beli, lalu lalang pencari suasana malam dan deretan warung-warung makanan berserta aktivitas memasaknya. Memang di alun-alun Demak tersebut kami menghabiskan waktu yang cukup lama, sekitar satu jam. Setelah dirasa cukup kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju tempat istirahat pertama, yaitu rumah nenek Santi,  yang terletak tepat di jantung kota Jepara.

Sambutan ramah (tentunya dengan teh panas dan roti, uhui) dari nenek Santi sedikit mengurangi rasa lelah saya setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Solo. Kondisi rumah terlihat masih kuno, sebagian dinding dan perabotnya  masih terbuat dari kayu. Ada pula ornamen-ornamen kayu ukiran khas Jepara yang sengaja digantung di dinding. Foto-foto anggota keluarga yang masih jadul menambah nuansa kuno rumah ini selain cetakannya yang berupa hitam putih. Sayang, saya tak kepikiran untuk mengabadikan segala macam itu, hanya foto dokumentasi bersama nenek dan salah satu kerabat Santi saja yang akan mengingatkan rumah singgah yang kami sebut “Museum R.A Kartini #2” tersebut. Hahaha, apalah sebutannya, rumah itu telah menampung kami sebelum paginya kami menuju dermaga.
Berfoto di bersama nenek Santi
Pagi harinya, Sabtu (16/7) kami ternyata molor berangkat ke Pelabuhan Kartini Jepara. Walau hanya berjarak 10 menit, dari rencana jam 5.30 kami baru berangkat jam 6.00. Sampai di pelabuhan terlihat deretan calon penumpang berdesak tertib mengantri di satu-satunya loket yang disediakan. Sebagai informasi, tiket untuk satu orang adalah Rp 30.500,- sedangakan untuk motor Rp 27.500,- dan Rp 300.000,- untuk mobil. Alangkah terkejutnya, kami yang baru mengantri sekitar 5 menit mendapati kabar tiket untuk satu-satunya kapal hari itu sudah ludes terjual.

Saya sendiri berpikiran, kalau berangkat di hari berikutnya, maka akan mengurangi lama liburannya. Cara lain adalah menggunakan kapal cepat yang harganya menurut teman saya Rp 250.000,- untuk setiap orangnya. Dan itu sepertinya tidak mungkin karena telah jauh dari budget kami.

Seketika saya  lari menuju kapal tanpa tiket, dan tanpa memberitahu teman yang lain, saya meminta pada sejumlah ABK KM.Muria agar bisa memasukkan saya dan rombongan saya. Satu, dua, tiga ABK kapal yang saya temui bungkam mulut, dan setelah ABK kapal keempat (saya tidak bisa sebutkan namanya) memberikan pertanda dapat membantu akhirnya saya berlari ke luar kapal dan memanggil teman saya.

Bergegas kamipun masuk ke kapal berdesak dengan penumpang  lain, baik wisatawan ataupun pedagang yang membawa sejumlah bahan kebutuhan untuk warga Karimun Jawa. Penuhnya tempat duduk memaksa saya dan sebagian yang lain memanfaatkan motor untuk istirahat. Dua tangga yang difungsikan naik juga terlihat penuh oleh sejumlah penumpang yang lain.

Singkat cerita, walaupun perjalanan di kapal menurut saya tidak singkat (6 jam) akhirnya tiba di Karimun Jawa. Raut muka lega, kagum, dan perkataan “akhirnya sampai juga” terucap saat disambut gapura persis di ujung dermaga bertuliskan “Selamat Datang Di Karimun Jawa”. 
KM Muria
Penuhnya penumpang KM Muria membuat petugas menambahkan terpal di bagian atas kapal.
Sesaat kami berfoto di gapura tersebut, dilanjutkan berkeliling menggunakan motor yang kita bawa untuk mencari penginapan. Kami sengaja mencari penginapan yang sekaligus rumah warga. Menurut informasi dari beberapa teman yang pernah berkunjung, ongkos penginapan rumah warga lebih terjangkau daripada villa yang sengaja dibangun untuk memfasilitasi wisatawan. Kelebihan lain adalah adanya  fasilitas rumah seperti dapur, ruang tamu, milik warga yang kita sewa dapat dipergunakan. Berbeda dengan villa yang harganya berkisar minimal Rp 80.000,- hanya mendapatkan fasilitas sekotak kamar saja.

Beruntung sekali, kami bertemu Pak Man yang menunjukkan rumah kerabatnya. Rumah milik Bu Endang  tarifnya cukup murah, hanya Rp 60.000,- per kamar. Kami yang berenam menyewa dua kamar untuk tiga malam. Cukup murah bukan, kalau dihitung-hitung, setiap orang hanya kena Rp 60.000,-.

Di  hari pertama, karena sampai ke Karimun sudah cukup sore, sekitar pukul 14.00, saya dan rombongan hanya menikmati sunset di Dermaga yang berdekatan dengan Kantor Kecamatan Karimun Jawa. Wisatawan baik baik dalam maupun luar negeri dimanjakan dengan pemandangan yang “subhanallah”. Langit berwarna orange, kuning, merah menemani aktivitas wisatawan dan aktivitas bongkar muat barang dari kapal menuju darat warga Karimun mengantarkan matahari yang tenang tenggelam.
Sunset di Karimun jawa
Aktivitas sore di dermaga
Salah satu warga Karimun Jawa yang bekerja sebagai pengantar barang menggunakan kapal.
Pengelola menyediakan peta untuk kemudahan wisatawan
Di hari kedua, cuaca cukup cerah walaupun pagi waktu berangakat dari Rumah Bu Endang sempat mendung.  Kami mengunjungi beberapa pantai, diantaranya, Pantai Ujung Gelam, Pantai Legon Lele, Pantai Glaman, semuanya dengan roda dua. Pohon jambu monyet yang mengiringi setiap perjalanan dengan buahnya yang berjatuhan dan tak ada yang mengambil mengingatkan waktu kecil saya. Andai ini di kampung saya, pasti jambu monyet tersebut akan habis dihajar oleh anak-anak kecil, hehehehe. Yah, lagi-lagi saya berpikir, begitu bebasnya kalau membawa sepeda motor seperti ini, bebas kemana, lebih irit walau dengan perjuangan lebih, dan seakan menyalahkan mereka yang ikut travel/paketan,hahahhaha. 
Pasir putih dan jernihnya air di Pantai Ujung Gelam


Naik Kapal, Snorkling, Dari Pulau ke Pulau

Hari ketiga kami menyewa kapal dan peralatan snorkling. Setelah mencari beberapa referensi, kamipun kembali menggunakan jasa Pak Man. Rp 300.000,- untuk menyewa kapal dan Rp 35.000,- untuk peralatan lengkap snorkling. Pukul 9.00 pagi kami mulai berlayar dan sesekali berhenti di tengah laut untuk ber-snorkling. Tidak sulit memilih tempat snorkling, karena keindahan bawah laut dengan aneka ragam ikan dan terumbu karangnya. Sekali lagi, Subhanallah. Akhirnya terumbu karang yang biasanya saya saksikan dari layar televisi bisa saya saksikan langsung. Jujur saja, ini pengalaman pertama saya ber-snorkling.  Rasanya ingin berlama-lama memandangi dan sesekali mengejar gerombolan ikan warna-warni yang berenang. Tapi, yang tidak boleh dilupakan adalah hati-hati dengan terumbu karang. Terumbu karang tajam dan dapat menyobek kulit kita.

Tak hanya ber-snorkling, kami juga mengunjungi beberapa pulau, diantaranya Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil, dan Pulau Cemara Kecil. Di Pulau Menjangan Besar juga Taman Nasional Karimun Jawa yang mengoleksi beberapa hewan. Fasilitas Taman Nasional ini menambah lengkapnya wisata Kepulauan Karimun Jawa.
Pak Man, mengantarkan kami berkeliling.


Snorkling, wajib dicoba
Pulau Cemara Kecil menurut saya paling rekomendasilah, pasirnya putih dan airnya biru bening ning ning ning ning ning ning. Dengan pepohonan cemara yang masih asri dan pemandangan alam bawah laut yang masih alami, tempat ini merupakan salah satu  favorit saya waktu ber-snorkling. Terlintas di benak saya setiap tempat yang saya kunjungi adalah milik pribadi.

Di Pantai Cemara Kecil ini juga kami mengkabiskan waktu yang cukup lama, foto-foto, ceburan ke air, sampai makan siang dari bekal yang kita bawa dari darat. Karena cukup kecil, sambil menenteng kamera foto, sayapun berjalan seorang diri mengelilingi pulau kecil yang tak berpenduduk ini.
Saya juga mengunjungi penangkaran hiu dan penyu yang berada di Pulau Menjangan Besar. Puluhan ikan hiu putih dan hitam dibudidaya dalam kotak-kotak kolam. Rasanya sangat menarik melihat ikan hiu yang terkenal sangat ganas tersebut berada di depan mata saya. Bahkan tidak hanya melihat, sesekali saya memberanikan memegang ikan hiu tersebut. Senang sekali rasanya bisa menjadi sahabat ikan bergigi tajam ini. Sangat menarik bukan bercengkrama dengan ikan-ikan predator tersebut.

Asyiknya bermain di Pulau Menjangan membuat kami lupa waktu, Pak Man yang menunggu kami memberi isyarat bahwa matahari mulai tenggelam. Kamipun bergegas menuju kapal. Seakan takmau melewatkan waktu yang tinggal sedikit, saya turunkan kaki kanan ke dalam air untuk merasakan sisa keindahan Laut Karimun Jawa. Begitu juga ketika sampai di dermaga, tenggelamnya matahari seakan menyampaikan pesan bahwa liburan telah berakhir.
wisatawan Mancanegara bersantai di Pulai Cemara Kecil
Pantai Cemara Kecil, salah satu favorit wisatawan yang berkunjung di Kepulauan Karimun Jawa
Sunset di Karimun Jawa
Bagi yang belum pernah, Karimun Jawa rekomendasi utama untuk berlibur dengan biaya relatif murah.

Tidak ada komentar:

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.